Jahe Merah (Nama ilmiah : Zingiber officinale var.rubrum)
Sekarang siapa sih yang tidak kenal JAHE.Tanaman yang sangat populer di Indonesia,
sekoteng, bandrek dan wedang adalah beberapa produk minuman yang sudah tidak
asing lagi bagi kita. Hampir setiap malam, terutama di daerah perkotaan, kita
sering disapa oleh para penjual keliling minuman tersebut. Atau sekarang coba
tengok kalau kita pergi ke mini market atau swalayan, selalu ada produk-produk
dengan bahan dasar jahe yang mejeng rapi
di rak-rak etalase.
Tidak secara tiba-tiba pamor jahe ini begitu
tenar, namun tanaman ini sudah sekian lama diketahui manfaatnya oleh orang tua
kita sejak dulu. Pemakaiannya begitu meluas karena ternyata manfaatnya sangat
banyak. Tidak hanya dipakai sebagai salah satu bumbu pelengkap masakan saja,
namun juga ternyata banyak pula digunakan untuk tujuan di bidang kesehatan,
terutama untuk jenis Jahe Merah.
Beberapa manfaat dari jahe di bidang kesehatan
tersebut dapat saya sebutkan sebagai berikut :
- Sebagai obat herbal
- Sebagai antioksidan, antiinflamasi, analgesik,
antikarsinogenik (anti kanker), dan kardiotonik (penguat fungsi jantung)
- Pencegah Obesitas
- Anti diare dan mual
- Anti hiperlipidemia (lemak berlebih)
- Melancarkan aliran darah
- Obat untuk kolesterol
Apabila anda masih kurang percaya mengenai
manfaat jahe yang saya sebutkan tersebut, anda boleh lihat deh di hasil penelitian yang dikeluarkan oleh
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian DI SINI atau
anda boleh lihat juga di DOWNLOAD AREA.
Bagi anda yang belum mengetahui mengenai
sejarah, asal muasal dan klasifikasinya, serta ingin kenal lebih dekat dengan
Jahe, saya sudah siapkan dari Wikipedia DI SINI atau
di DOWNLOAD
AREA.
Setelah anda baca mengenai manfaat jahe, jenis
dan klasifikasinya, terutama Jahe Merah, mari kita lanjutkan ke analisa
peluang usaha. Terdapat beberapa faktor, menurut saya, yang perlu kita
perhitungkan, mari kita mulai (kalau ada yang kurang, tambah sendiri ya…hehehe)
Faktor yang Memungkinkan Budidaya Jahe Merah Menguntungkan
Mari kita urai beberapa yang mungkin akan
menjadi faktor menguntungkan atau mendukung keberhasilan budidaya jahe merah
- Permintaan
terhadap Jahe Merah masih cukup tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri
maupun luar negeri. Silahkan anda browsing dan searching mengenai
permintaan produk agro ini.
- Tanaman
Jahe bisa tumbuh pada ketinggian 0 – 2.000 m.dpl. sehingga cakupan tempat
budidaya relatif luas.
- Teknis
budidaya relatif mudah, dengan menggunakan media tanam di dalam polybag
ataupun karung bisa dilakukan. Dengan demikian lahan yang dibutuhkan tidak
perlu luas, kita bisa memanfaatkan lahan di pekarangan atau halaman rumah
yang tidak produktif. Cara atau teknik budidaya pun sudah banyak tersedia
dan banyak dipraktekkan. Anda pun dapat melakukan budidaya jahe merah
sistem organik dengan mudah.
- Harga
jual jahe merah menurut perkembangan pasar saat ini memang tidak setinggi
seperti tahun-tahun sebelumnya, namun saya lihat masih memiliki nilai
ekonomis. Apalagi bila dilakukan pengolahan jahe menjadi produk turunan,
misalnya serbuk jahe dan gula, harganya tentu akan memiliki nilai ekonomi
lebih tinggi dibanding harga jahe mentah .
- Belum
begitu banyak yang melakukan budidaya jahe, meskipun di beberapa daerah
sudah menjadi komoditi andalan, tengok misalnya di beberapa daerah di
Sukabumi, Tasikmalaya atau di daerah Brebes, tanaman ini menjadi salah
satu komoditi andalan daerah.
- Biaya
yang harus dikeluarkan relatif rendah. Kita hanya perlu menyediakan
polybag atau karung, tanah, pupuk, dan bibit serta biaya pemeliharaan yang
tidak begitu besar, apalagi bila dilakukan oleh kita sendiri.
Hambatan Budidaya Jahe Merah
- Kualitas
jahe harus benar-benar diperhatikan karena hal ini akan menentukan harga
jual. Sekedar info, kualitas jahe Indonesia masih di bawah negara lain (ga
percaya ? browsing dong…). Bagaimana cara mengatasinya ? Pola budidaya
organik yang telah dilakukan oleh beberapa mitra HCS terbukti dapat
menanggulangi masalah kualitas ini. Jadi tidak perlu khawatir, kita
bisa sharing koq…
- Serangan
hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit ini akan berhubungan dengan
kualitas dan jumlah hasil budidaya. Namun masalah penyakit dapat ditekan
dan dicegah apabila teknis budidaya kita mengikuti pola yang benar.
- Penjualan
hasil budidaya. Hal ini memang menjadi masalah klasik di Indonesia, hampir
untuk semua komoditi. Belum ada regulasi yang jelas mengenai sistem
penjualan maupun patokan harga. Tapi ga usah pusing, mengenai
penjualan komoditas jahe ini, mungkin anda bisa menjual langsung ke
distributor, pasar, industri jamu atau minuman, atau anda menjalin kerja
sama dengan kelompok tani jahe misalnya di Sukabumi, Tasikmalaya maupun
Brebes yang sudah terlebih dahulu mapan untuk ikut nebeng jual. Yang penting, kita harus
usahakan mendapatkan harga beli yang layak dan masih mempunyai nilai
ekonomis sedang-tinggi. Ironis memang, sebagai contoh, minggu kemarin saya
pergi belanja ke sebuah swalayan terkenal, iseng-iseng lihat harga jahe
gajah yang dijual Rp. 19.850,-/kg, kemudian iseng juga nelpon ke ‘pengepul
jahe’ yang ternyata menerima jahe gajah dengan harga beli Rp. 8.000,-
saja……hadduh
Teknis Budidaya Jahe Merah
Setelah menimbang mengenai peluang dan
kemungkinan hambatannya, mari kita pelajari teknis budidaya tanaman yang satu
ini agar kita sama-sama mendapat gambaran umum yang lebih lengkap. Banyak
pola tanam yang bisa kita terapkan, di sini saya akan coba bahas teknis
budidaya organik jahe merah menggunakan pola HCS. Namun sebelumnya coba
kita pelajari secara umum karakteristik tanaman jahe berikut ini :
Syarat tumbuh :
- Iklim
: Tanaman jahe memerlukan curah hujan antara 2.500-4.000 mm/thn
- Pada
umur 2,5 – 7 bulan perlu cukup sinar matahari. Artinya, tanaman ini harus
berada di tempat terbuka agar cukup sinar matahari sepanjang hari
- Suhu
udara yang optimal adalah 20 – 35 derajat Celcius
- Secara
umum dapat tumbuh pada keasaman tanah dengan pH 4.3 – 7.4, kecuali untuk
jenis Jahe Gajah pada pH 6.8 – 7.0
- Tumbuh
baik pada tanah subur dan gembur, serta banyak mengandung humus
Persiapan Bibit atau Benih Jahe Merah
Kita dapat melakukan penanaman dari bibit jahe
merah yang sudah siap tanam atau sudah bertunas antara 5-10 cm. Namun
apabila tidak tersedia, kita dapat menyemaikan bibit dari bentuk rimpang.
Apabila menyemaikan sendiri, perhatikan kualitas rimpang yang akan
disemaikan. rimpang untuk disemaikan haruslah berasal dari induk yang
cukup tua umurnya, permukaan rimpang mengkilat dan tidak cacat serta tidak
terlihat ada bekas diserang hama.
1. Teknik Persiapan Rimpang
Rimpang yang akan disemaikan (tentunya setelah
diseleksi), dibersihkan dan kemudian dijemur namun hati-hati jangan terlalu
kering. kemudian…..
- Simpan
selama 1 – 1.5 bulan.
- Patahkan
rimpang dengan tangan, yang mana setiap potongan tadi memiliki 3 – 5 mata
tunas, kemudian dijemur kembali selama 1/2 sampai 1 hari (lihat cuaca).
- Masukkan
potongan rimpang tersebut ke dalam karung
- Buat
larutan PHEFOC HCS, dengan dosis : 1 tutup botol
PHEFOC dilarutkan ke dalam 14 liter air, kemudian ditambah 2 sendok makan
gula pasir, aduk sampai rata dan biarkan selama 15 menit.
- Potongan
rimpang yang sudah dalam karung kemudian dicelupkan ke dalam larutan
PHEFOC selama 15 menit. Angkat dan tiriskan. Tujuan perendaman dengan
PHEFOC adalah agar bibit terbebas dari patogen asal penyakit dan memiliki
daya tahan lebih tinggi untuk mendapat serangan penyakit, ya mirip
di-immunisasi dulu lah…
- Selama
menunggu proses ‘pe-nirisan’, buatlah larutan SOT HCS dengan dosis : 5 tutup botol SOT
dilarutkan ke dalam 14 liter air, dan ditambahkan pula 3 sendok makan gula
pasir. Aduk hingga rata dan biarkan selama 15 menit
- Setelah
cukup ditiriskan, bakal bibit tadi kemudian direndam selama kurang lebih 6
jam dalam larutan SOT HCS yang telah dibuat tadi. Tujuan perendaman
dengan SOT adalah agar nantinya bibit dapat tumbuh dengan baik dan sehat
terutama pada saat-saat awal penanaman
- Setelah
6 jam, karung berisi benih tersebut kemudian ditiriskan sampai kering. Dan
benih sudah siap untuk disemaikan.
2. Teknik Penyemaian Rimpang
Beberapa cara dapat dilakukan untuk penyemaian
bibit jahe dari rimpang ini. Dengan menggunakan sistem kotak kayu atau dengan
cara membuat bedengan. Kali ini saya ulas penyemaian dengan memakai kotak
kayu.
- Buat
kotak kayu dengan ukuran misalnya 50 x 100 cm dengan tinggi 10 cm.
Bentuknya seperti nampan. Tahu nampan kan ?
- Buat
campuran tanah untuk media semai dengan bahan campuran : tanah dan pupuk
bokashi (lihat cara membuat Pupuk Bokashi), perbandingannya
adalah tanah : pupuk bokashi = 3 : 1
- Kemudian
campuran tanah tersebut masukkan ke dalam kotak dan disebar secara merata
- Benamkan
potongan-potongan rimpang jahe ke dalam tanah tersebut. Kemudian tutup
tipis dengan tanah atau daun kering
- Lakukan
perawatan dengan cara menyiram media semai tadi dengan air 2 kali sehari
- Waktu
yang dibutuhkan untuk penyemaian berkisar antara 2-4 minggu. Sabaar…
Teknik Penanaman Jahe
Teknik penanaman jahe berikut yang saya pilih
adalah dengan memanfaatkan media tanam dalam polybag atau karung. Di sini
saya memilih karung karena kebetulan mudah diperoleh dan murah, meskipun
katanya rada-rada rapuh kalau sudah lama, tapi coba saja lah. Teknik
memakai polybag atau karung ini banyak juga yang menyebut sebagai cara budidaya
tanaman vertikultur, artinya budidaya tanaman secara vertikal atau bertingkat.
1. Alat dan Bahan
- Karung
(disini saya memakai ukuran 40 x 100 cm), jumlah terserah anda. Saat ini
saya siapkan 100 karung
- Sekop
atau cangkul, untuk mengaduk
- Ember
- Pupuk
Bokashi
- Tanah
2. Penanaman Bibit
- Buat
campuran antara tanah dan bokashi dengan perbandingan 3 : 1.
- Masukkan
campuran tanah tersebut ke dalam karung dengan ketinggian kurang lebih 15
cm atau 1/5 tinggi karung. Untuk memudahkan, sebelumnya tekuk dulu
permukaan karung bagian atas.
- Ambil
rimpang jahe hasil penyemaian, patah-patahkan rimpang jahe tersebut dengan
tangan menjadi 2-3 ruas, yang mana setiap ruas minimal terdapat 2 mata
tunas
- Bibit
jahe kemudian ditanam 3-5 cm ke dalam tanah dalam karung tadi.
Setiap karung dapat diisi beberapa titik tanam, atur misalnya 2 – 3 titik
tanam. Rata-rata sih katanya kira-kira 200 gr bibit cukup untuk satu
karung.
- Atur
penyimpanan karung posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah. Buat kolom
gundukan tanah memanjang, setiap gundukan kolom bisa diisi 2-3 baris
karung. Contoh misalnya seperti pada foto di bawah ini :
3. Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Jahe
Tahap berikutnya adalah perawatan dan
pemeliharaan tanaman. Kegiatan ini meliputi penyiraman tanaman, pemberian
pupuk dan penanggulangan penyakit
- Pada
tahap awal, lakukan penyiraman air secara teratur dan rutin pagi dan sore
selama kurang lebih seminggu, bertujuan agar tunas tidak kering dan layu
- Selanjutnya,
penyiraman dilakukan sehari sekali kecuali pada kondisi kemarau sebaiknya
penyiraman dilakukan dua kali
- Pada
usia tanaman 2 – 4 minggu lakukan penyemprotan atau penyiraman dengan
fermentasi SOT. Sebelumnya lakukan fermentasi larutan dengan dosis :
5 tutup botol SOT + gula pasir 3 sdm + urine ternak 2 liter + feses ternak
cair 2 liter. Fermentasi dilakukan selama 24 jam, kemudian larutkan dalam
15 liter air. Kemudian baru digunakan untuk menyemprot atau menyiram
- Penyemprotan
dengan SOT bergantian dengan PHEFOC dengan interval 2-4 minggu sekali
- Pada
usia 2-3 bulan atau jika terlihat keluar rimpang jahe ke permukaan,
lakukan penimbunan dengan campuran tanah dan bokashi (perbandingan tanah :
bokashi tetap 3 : 1). kurang lebih setinggi 10 cm
- Selalu
lakukan penyiangan media tanam dari hama berupa gulma/rumput agar tidak
mengganggu pertumbuhan rimpang
- Penimbunan
dilakukan terus secara berulang sampai tanaman jahe berusia sekitar
8 bulan atau sampai karung terisi penuh dengan tanah
- Rata-rata
usia optimal penanaman jahe berkisar antara 8 – 10 bulan, ditandai dengan
mulai mengeringnya daun
- Dengan
pola tanam seperti ini, diharapkan hasil panen jahe per karung mencapai
minimal 10 kg
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang paling sering menyerang
tanaman jahe adalah kepik, ulat penggesek akar dan kumbang. Sedangkan penyakit
berupa penyakit layu bakteri, busuk rimpang, dan bercak daun. Untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jahe merah ini,
saya akan coba share dan ulas agak detail nanti di tulisan berikutnya….
Analisa Ekonomi Budidaya Tanaman Jahe merah
Analisa ini saya lakukan secara praktis
berdasarkan rencana penanaman pada 100 karung media tanam. Yang
diperhitungkan adalah total biaya yang dikeluarkan meliputi modal awal dan
biaya pemeliharaan dibandingkan dengan target pemasukan uang berdasarkan hasil
penjualan tanaman jahe.
1. Biaya yang saya keluarkan meliputi :
- Karung
: 100 karung x Rp. 600,-
= Rp. 60.000,-
- Pupuk Bokashi
:
= Rp. 50.000,-Karena saya
belum mempunyai limbah ternak sendiri, jadi terpaksa saya beli dulu
kotoran ternak.
- Bibit Jahe
: 100 karung x Rp. 1.000 = Rp.100.000,-
- Pupuk SOT dan PHEFOC
= Rp.250.000,-
- Ongkos kerja : Gratis, kerjain aja dulu sendiri.
Kalaupun minta bantuan, mungkin cukup keluar uang Rp.100.000 untuk
pengerjaan membuat campuran tanah dan memasukkan ke dalam karung
- Lain-lain atau tidak
terduga
=
Rp.500.000,-
- TOTAL Biaya yang sudah dan akan saya keluarkan =
Rp. 960.000,-
2. Hasil Penjualan Jahe Merah
Berdasarkan pengalaman di tempat lain dan
informasi dari petani jahe merah yang sudah berjalan. Rata-rata hasil panen
jahe merah per karung atau polybag dengan cara di atas dapat mencapai 10-15
kg/karung. Bahkan ada diantara salah seorang mitra HCS dapat mencapai
produksi 20 kg/karung. Di sini, saya berandai-andai panen per karung anggap
saja hanya mencapai 5 kg/karung. Jadi perkiraan total hasil panen 100
karung x 5 kg = 500 kg
Harga per kg Jahe Merah memang fluktuatif
dikisaran Rp.10.000 – Rp.15.000,- tergantung pembeli dan kualitas
tentunya. Saya berandai lagi di sini, harga jual yang akan saya
peroleh anggap saja rendah yaitu Rp. 6.000,-/kg (berdasar
informasi pengepul minimal Rp.8.000,-/kg).
- Hasil penjualan : 500 kg x Rp. 6.000 = Rp.
3.000.000,-
Keuntungan atau laba : Rp. 3.000.000,- – Rp.
960.000,- = Rp. 2.040.000,-
Parameter kelayakan usaha : B/C rasio
: 3.125, atau anggap saja jelek-jeleknya di 2.0
B/C ratio menunjukkan angka di atas 1, ini menandakan usaha budidaya jahe
merah masih termasuk layak.
Gambaran Peluang Usaha
Menurut analisa secara umum di atas, budidaya
tanaman jahe merah dengan sistem organik HCS masih layak untuk dilakukan
(Benefit Cost ratio 3.125). Karena masih layak, saya sekarang sedang merintis
untuk membuktikan aplikasinya langsung, ya semoga saja lancar…
Rencana saya malah akan melakukan penanaman
setiap bulan sekali. Kenapa akan saya lakukan seperti itu ? Karena nantinya
mulai pada 8 – 10 bulan mendatang, saya berharap bisa panen Jahe setiap bulan.
Artinya, mudah-mudahan setiap bulan saya akan mendapat tambahan pemasukan uang
minimal Rp. 2.040.000,-/bulan.
Apabila prospeknya stabil dengan trend yang bagus, kemungkinan saya akan menambah
jumlah media tanam lebih dari 100 karung, why not ? Kalau
per karung butuh lahan 1 meter persegi, maka saya akan butuh minimal total 800
meter persegi. Masih kurang lahan ? Mungkin saya akan coba pola
penyimpanan media tanam bertingkat. Why not II ? Targetnya
adalah meningkatkan jumlah hasil panen per karungnya, dengan demikian meskipun
harga relatif tetap, saya akan mendapat keuntungan lebih dari jumlah panen yang
meningkat. Dan bagi anda yang memiliki lahan 1 (satu) are atau bahkan
berhektar-hektar silahkan anda hitung sendiri potensi yang dapat dihasilkan.
Jadi, bagaimana menurut anda ? Menanam Jahe Merah Mungkinkah Jadi Milyuner ?

